Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

My Sun

Dewi Chani presents
An Alternate Universe request fiction
“FOUR SEASONS—Summer: My Sun”
Length: 1 of 4 season
Summary: Cinta yang benar dalam keadaan yang salah. Lelaki berjambul dengan senyum hangat dan gadis bernama Lily Aron bersama es krim vanillanya. Tahukah mereka bahwa Tuhan sedang menuliskan akhir kisah mereka?

Happy reading!

Mentari itu masih terlukis rapih di kanvas langit.
Terik tajamnya menembus celah-celah awan.
Angin terbang bersama harum khas musim panas.
Dan sebuah es krim vanilla mulai mencair.
Pemiliknya tak menyadari itu.
“Ly, es krimmu!” Lelaki berjambul berteriak pada gadis disebelahnya.
Gadis itu baru tersadar dari melamun dan membulatkan kedua matanya sempurna melihat es krim vanillanya yang mencair lalu mulai menetes ke tangan. Dia berdecak sebal dan jelas itu mengundang tawa renyah lelaki berjambul tadi. “Siapa yang menyuruhmu melamun, Ly?”
Gadis itu mendelik, “Siapa yang ingin makan es krim di tempat panas seperti ini, Jein?”
“Well, jadi kau menyalahkan mataharinya, Ly?”
“Well, apa menurutmu aku bisa menyalahkan benda mati, Jein?”
“Baiklah-baiklah. Bersihkan tanganmu dulu, dasar anak kecil,” Jein –lelaki berjambul itu— menyodorkan sebuah sapu tangan putih polos pada gadis itu.
Lily sibuk membersihkan tangannya sampai ia melihat rajutan huruf L dan A warna merah di sisi kanan bawah sapu tangan itu. “Ini sapu tanganku yang kau pinjam bertahun-tahun itu, kan?”
Jein tersenyum semanis mungkin dengan matanya yang disipitkan, “Aku hanya belum sempat mengembalikkannya, Ly. Kau tahu kan, aku sangat sibuk?”
Lily memutar bola matanya tak perduli, lalu melemparkan sapu tangan putih itu pada Jein. “Cuci dulu, baru kembalikkan padaku.”
“Siapa juga yang membuatnya kotor,” desis Jein setelah menerimanya.
“Apa?”
“Ah? Tidak apa-apa. Aku hanya melihat ada kucing yang menjulurkan lidahnya padaku.”
“Lucu sekali,” sinis Lily.
“Terimakasih.”
***
Jein merendahkan tubuhnya, “Baiklah tuan putri, sudah sampai di istana.”
“Baiklah prajurit, terimakasih tumpangan punggungnya.”
“Tapi lain kali mungkin kau bisa diet dulu.”
“Jein! Aku tidak seberat itu!”
“Aku yang menggedongmu, jadi aku yang tahu seberapa berat tubuhmu.”
“Tapi, aku rasa—“
“Sudah kubilang kan, jangan menggunakkan perasaan. Tapi lihat saja faktanya, nona.”
“Itu bukan fakta. Tapi hanya opinimu, tuan.”
“Dan aku ini orangnya objektif. Jadi menyatakkan opini berdasarkan fakta.”
“Oke, aku akan diet. Puas?”
“Aku hanya bercanda, Lily Aron…”
***
Zayn Malik, atau Jein –begitu caranya memanggil lelaki itu— adalah sahabat baik Lily. Lelaki dengan rambut berjambul, mata hazel, dan jangan lupakan senyuman sihirnya itu. Senyuman sihir? Benar. Senyuman lembut yang selalu berhasil menghipnotis Lily.
Tubuhnya mendadak lemas setiap senyuman sihir itu memasuki saluran penglihatannya.
Seperti matahari yang melelehkan es krim vanilla-nya.
Jein memang benar-benar seperti matahari, bagi Lily Aron. Menghangatkan dan selalu memancarkan sinar.
***
“Jein?”
“Hm?”
“Kau tahu?”
“Tidak.”
“Aku serius.”
“Baiklah, katakan.”
“Kau terlihat seperti matahari bagiku.”
“Benarkah?”
“Dan reaksimu cuma seperti ini?”
“Memangnya aku harus menjawab seperti apa?”
“Jein, aku baru saja mengakui sesuatu yang…. bodoh. Lupakan saja.”
“Gaya bicaramu seperti gadis yang sedang menyatakkan perasaanya kepada senior yang di sukai, Ly.”
“Lalu?”
“Kita sahabat, bodoh.”
“Kau benar.”
***
Lily tidak bisa tidur semalam karena memikirkan untuk mengatakkannya atau tidak.
Lily berbicara sendiri di depan cermin seperti orang gila hanya untuk merangkai kata-kata yang tepat.
Bahkan Lily membuat dialog buatan –antara dia dan Jein— dengan berbagai hal yang paling berkemungkinan besar akan dibicarakan.
Lalu ketika Lily mengatakkan apa arti lelaki itu baginya, yang ia dapatkan hanya sebuah ‘benarkah?’.
Ya, benar. Ini memang benar-benar bodoh.
Dan apa yang lelaki itu bilang? Gaya bicaranya seperti gadis yang sedang menyatakkan perasaanya kepada senior yang di sukai? Oh Tuhan, yang benar saja? Jelas-jelas mereka sahabat.
Ya, sahabat.
Lalu setiap mendengar itu…
Kenapa jatungnya mencelos?
Kenapa nafasnya tercekat?
Kenapa seperti ada lubang menganga di hatinya?
Kenapa air mata mendesak keluar dari matanya?
Lily tidak bisa menyangkal lagi kepada hatinya sendiri kalau dia mulai berharap semuanya lebih dari sekedar sahabat. Tapi dia tidak akan mengakui itu kepada siapapun, karena jika diakui, dia tahu ini akan semakin terasa nyata.
***
Zayn menempelkan ponsel ditelinganya. Lalu tersenyum mendengar suara dari sebrang sana.
 “Hallo,”
“Ly?”
“Jein?”
“Apa aku mengganggumu?”
“Tidak. Ada apa?” 
“Besok aku tidak bisa berangkat ke sekolah bersamamu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak masuk.”
“Kau sakit? Berikan surat doktermu padaku biar—“
Jein memotong ucapan Lily yang tidak memberikkannya kesempatan untuk menjawab, “Aku tidak sakit.”
“Lalu?”
“Pergi.”
“Kemana?
‘Oh Tuhan, kenapa gadis ini seperti wartawan?’ Jein menggurutu dalam hati.
“Ada urusan keluarga.”
“Oh baiklah, aku akan menyampaikannya pada Mrs. Lauren.”
“Jangan—”
“Ha?”
“Maksudku, tidak perlu. Orang tuaku sudah menghubunginya.”
“Oke. Kapan kau kembali?”
 “Aku tidak tahu,”
‘Atau mungkin tidak akan kembali lagi.’ Desisnya lagi dalam hati.
 “Kenapa begitu?”
“Tapi mungkin aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama.”
“Menyebalkan sekali.”
“Mungkin kau harus membiasakan diri untuk jalan sendiri ke halte bus mulai sekarang.”
“Jein,”
“Ya?”
Dan gadis itu tidak menjawab apapun.
“Hei, kau masih disana?”
“Eh? Ah maaf, aku melamun.”
“Apa yang kau pikirkan, Ly?”
“Apa kau baik-baik saja?”
“Apa? Aku? Ten—tu saja. Kenapa?”
“Tidak, hanya memastikan.”
“Kurasa kau mulai mengantuk. Aku akan menutup teleponnya.”
“Tunggu. Jangan ditutup dulu.”
“Apa lagi—“
“Aku mencintaimu.”
Zayn tidak bisa bernafas dengan baik. Dia benar-benar butuh oksigen lebih banyak di sekitarnya. Mata hazelnya ditutup. Kalimat yang sangat tidak ingin di dengar telinganya, akhirnya terucap.
Ya, tidak ingin di dengar. Bodoh sekali.
Seekor semut di lantai dekat kakinya pun tahu Zayn Malik tidak bisa untuk tidak berharap tentang perasaan Lily Aron padanya, walaupun harapan itu sangat kecil— tapi setidaknya ia masih punya harapan.
“Tidurlah.”
“Aku mencintaimu, Jein.”
‘Aku juga, Ly. Aku juga.’
Tapi tenggorokkannya tertahan, logikanya mencoba mengalahkan perasaan menggebu –gebu itu dihatinya. Tidak. Tidak bisa. Semua bagian tubuhnya pun tahu bahwa dia tidak bisa memiliki perasaan ini. Cukup di dalam hati, jangan sampai terucap.
“Selamat malam. Aku tutup teleponnya.”
***
Lily sadar kalau Jein beberapa waktu belakangan ini berubah semenjak dia mengatakkan kalau lelaki itu seperti matahari. Pasti dia sudah merasakan perasaan Lily padanya lalu merasa tidak nyaman. Mungkin karena Jein tidak memliki perasaan yang sama padanya? Ah benar, lelaki itu sering bilang kalu mereka sahabat. Bodoh.
Lily tahu kalau dia –sangat— gegabah sampai mengatakkan kalimat bedebah itu. Lily Aron telah mengatakkan kalau gadis itu mencintai Zayn Malik yang notabene adalah sahabatnya sendiri.
Tapi dia tidak bisa menahan perasaan lega yang membuncah ini. Rasanya seperti membunuh nyamuk yang sedari tadi mengigiti kulitnya. Baiklah, setidaknya biarkan beban di hati dan pikirannya terasa lebih ringan sekarang.
Jadi mencintai Jein adalah beban?
Sama sekali tidak. Tapi posisinya yang membuatnya merasa terbebani.
Kenapa cinta itu hadir diantara persahabatannya?
Atau malah, kenapa persahabatan itu merusak cintanya?
Lily tidak tahu mana pertanyaan yang tepat.
***
Alat optik itu terbuka dan memperlihatkan kornea hazel yang sontak menyipit karena belum siap menerima bias cahaya mentari. Empunya mengerang menerima sakit di kepalanya. Dia baru akan berpikir tentang ruangan asing ini ketika indra penciumannya mendeteksi bau obat.
Tempat ini lagi.
Sampai kapan dia harus terjaga dari tidur dan mendapati tubuhnya terbaring di ruangan yang selalu tampak asing dengan cat putih di seluruh penjurunya?
Jein baru akan memejamkan matanya lagi ketika ada suara kusen berdecit lalu wanita separuh baya muncul dari balik pintu itu.
“Selamat pagi.”
Wanita dengan wajah khas negara barat yang tetap terlihat cantik walaupun memiliki semburat keriput tipis itu terus menampilkan senyum lembutnya.
“Mau makan bubur?” katanya sambil menaruh plastik bawaannya di atas meja.
“Apa aku pingsan lagi, Bu?”
Jein memang selalu menjawab pertanyaan orang dengan pertanyaan lainnya. Kebiasaan buruk.
Wanita yang di panggil ‘ibu’ itu menghampiri ranjang anaknya lalu duduk di tepi kasur yang kosong, “Ayah menemukkanmu jatuh sambil menggengam ponsel.”
Menggengam ponsel? Apa dia menghubungi seseorang semalam? Oh benar, bahkan teman bicaranya itu menyatakkan cinta.
Zayn menghela nafas berat mengingat suara gadis itu, bahkan setiap katanya.
“Apa dia sudah tahu—“
“Kita sudah pernah membahas itu sebelumnya, Bu.”
“Apa alasannya? Karena ini bukan waktu yang tepat?” Zayn tidak begerming sedikit pun, “Waktu tidak pernah tepat, kalau manusia selalu saja belum siap.”
“Aku memang benar-benar belum siap, Bu.”
“Kurasa kau bisa membedakan antara belum dan tidak. Belum itu berarti akan, kan?”
“Tentu saja, nanti.”
“Sebenarnya aku benar-benar tidak ingin mengatakkan ini –apalagi pada anakku sendiri. Tapi kenapa kau seenaknya selalu mengatakkan ‘nanti’? Kau merasa dirimu dalam keadaan baik-baik saja dan punya banyak waktu, Zayn?”
Kulitnya seperti tertancap runcing kayu lalu mengeluarkan darah. Ibunya baru saja menamparnya kembali pada kenyataan.
“Ibu tahu ini bukan urusan ibu. Tapi setidaknya jangan membuat dirimu lebih menderita  dari sebelumnya. Lagipula, kurasa dia juga punya hak untuk tahu.”
***
Lily Aron menatap pintu yang bertuliskan “teachers room”dihadapannya. Lalu gadis berambut hitam itu mendorong pintunya pelan, dan mendongakkan sedikit kepalanya kedalam ruangan. Dia tersenyum saat mendapati sesosok wanita separuh baya melambaikan tangan padanya disana. Ia mendorong pintunya sedikit lagi agar cukup untuknya masuk, lalu berjalan mengahampiri wanita itu.
“Ini tugasku, Mrs.”
Wanita dengan lipstick merah darah itu tersenyum simpul, “Untuk pertama kali, murid yang paling teladan dikelasku telat mengumpulkan tugasnya.”
Lily menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk. “Ah ya, maaf kan aku, Mrs. Banyak hal yang harus kulakukan minggu ini.”
“Hal seperti merindukkan Zayn Malik?”
“Mrs. Lauren—“
Wali kelasnya itu –Mrs. Lauren— mengadah-ngadahkan telapak tangannya sambil tertawa kecil. “Tidak-tidak, kau tidak perlu menjawabnya. Kau tahu kan, aku hanya suka menggodamu.”
“Em,“ Lily memiringkan kepalanya seperti menimbang-nimbang, “Tapi kau benar.”
“Ah baiklah Ly, aku tahu itu sangat menyiksa saat kau merindukkan seseorang,” Mrs. Laurent memegang pundak Lily dengan mimik prihatinnya. “Kuharap dia cepat sembuh.”
Gadis bermarga Aron itu menyernyitkan dahinya bingung.”Sembuh?”
“Kau tidak tahu?”
“Jadi ada sesuatu yang tidak kuketahui, Mrs?”
“Ly…” Mrs. Laurent melepaskan tangannya dari pundak Lily, “Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini, tapi mungkin ini bukan kapasitasku untuk bicara.”
“Katakan padaku, Mrs, kumohon. Aku mencintainya.” Entah apa yang gadis itu pikirkan, tapi semua kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tidak peduli lagi dengan; bodoh-harga diri-sahabat.
Mrs. Laurent menghela nafas panjang seperti meyakinkan dirinya untuk berbicara. “Zayn Malik menderita penyakit hepatitis. Sekarang dia sedang menjalani perawatan intensif.”
Bagi Lily Aron Bumi seperti berhenti berputar.
***
Lily Aron turun dari taksi dengan terburu-buru. Dia berlari ke arah sebuah gedung di sebrang jalan. Hatinya berkecamuk, pikirannya tak bisa fokus sama sekali, satu-satunya hal yang dia ingat adalah Zayn Malik.
Dia menemukannya. Sebuah kamar dengan wanita paruh baya yang sangat tidak asing sedang duduk didepannya, Ibu Jein. Gadis itu benar-benar takut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak bisa untuk menerima kenyataan apapun. Mungkin dia tidak bisa, tapi dia tahu kalau dia harus. Dengan sisa rasa berani yang masih ada dalam dirinya, kaki lemas itu mulai melangkah.
“Mrs. Malik?”
Wanita berambut pendek itu  mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, menampilkan wajahnya yang penuh air mata. Ibu Jein menangis.
Lily Aron tahu dia semakin dekat dengan kenyataan itu.
Ibu Jein menatapnya dengan pandangan tak percaya. “Ly?”
“Mrs. Lauren mengatakkannya padaku.”
“Aku benar-benar minta maaf…”
“Aku mengerti, Mrs.”
Wanita yang menyandang status sebagai ibu Zayn Malik itu memeluk Lily, menangis di pundak gadis itu. Seperti mencurahkan semuanya hal yang telah terjadi, menceritakkan semua kesedihan yang selama ini ia rasakan.
Ibu Jein melepaskan pelukannya, “Anak nakal itu selalu memarahiku kalau tahu aku menangisinya.”
Lily baru ingin menanggapi kalimat Ibu Jein ketika pria berjas putih keluar dari ruangan –yang Lily tahu ada Jein di dalamnya.
“Daniel?” Ibu Jein menghapus air matanya lalu menghampiri dokter —yang dipanggilnya Daniel itu— dengan tersenyum penuh harap.
“Maafkan aku, Mrs.” Daniel menundukkan kepalanya seperti menyesal.
Lily tahu kali ini ia sudah sangat dekat dengan kenyataan itu.
Senyum penuh harap milik Ibu Jein seketika luntur begitu saja, wanita itu sontak berlari memasuki ruangan di balik tubuh Daniel. Sedetik kemudian Lily bisa mendengar jeritan tangis Mrs. Malik dari luar.
Kali ini kenyataan itu memang sudah ada dihadapannya.
Tangan bergetar gadis itu memutar gagang pintu besi yang kali ini terasa seribu kali lebih dingin dari biasanya. Suara decitan kusen, menandakan pintu itu terbuka. Menampilkan jelas isi ruangan itu.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, melihat lelaki itu tergeletak lemas tak berdaya. Ia bisa melihat jelas wajah pucat yang kini semakin tirus, kornea hazel indah dibalik kelopak mata yang menutup, dada dan perut yang tenang karena empunya sudah tidak bernapas.
Lily tidak percaya pada matanya yang terasa panas, pada tubuhnya yang gemetar hebat, pada pandangannya yang mulai buram, pada rahangnya yang merapat, dan bahkan pada cairan tak berwarna yang lolos dari pelupuk matanya.
Dia tidak seharusnya menangis, tak ada perlu di tangisi, Zayn Malik baik-baik saja. Lelaki menyebalkan itu tak akan pernah meninggalkan nya sendiri begitu saja. Lelaki itu pasti akan menghapus air matanya dan memeluknya.
Tapi kenapa dia tidak bisa berhenti menangis…
Kenapa lelaki itu tidak memeluknya..
***
Hal yang paling buruk dari di tinggalkan adalah merasa kehilangan. Tahap dimana harus menerima kenyataan bahwa sosok itu sudah tidak ada lagi.
Bahkan Lily berharap, kalau lebih baik Zayn Malik sengaja menjauh karena mengetahui perasaan gadis itu padanya. Karena dengan begitu, setidaknya… Ia masih bisa melihatnya, mendengarnya, merasakan kehadirannya di sekelilingnya. Memastikan apa lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja. Daripada ia tidak dapat melihatnya lagi, walau hanya bayangannya. Tidak dapat mendengarnya, walau hanya suara langkah kakinya. Tidak dapat merasakan kehadirannya, walau hanya harum parfumnya.
Karena lelaki itu memang tidak akan kembali lagi. Walau hanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.
“Ly…”
“Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, aku yakin Jein akan marah jika melihatmu seperti ini.”
 “Bacalah. Jein menulisnya sebelum pergi.”
***
Dear Lily, bunga musim panasku…
Aku tak tahu apa tujuanku menulis ini. Mungkin ini terlihat seperti drama-drama, tapi— mungkin aku tidak bisa mengungkapkan kalimat-kalimat sepuitis ini secara langsung padamu. Bukan tidak mau Ly, aku tidak bisa. Kau tahu, bukan sekarang? Penyakit hepatitis ini membuatku terlihat sangat lemah. Bodoh. Pengecut. Bahkan untuk sekedar mengungkapkan perasaanku pada gadis yang kusukai saja tidak bisa. 
Ly, aku sakit. Disini, di dadaku rasanya sakit sekali. Aku lelah seperti ini. Tapi aku menahannya. Karena aku punya hal yang dapat membuatku bertahan. Bukan obat-obatan, tapi kau.
Aku sangat merasa tidak adil saat aku hidup ditemani penyakit yang menggerogoti tubuhku. Tapi aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena mempertemukan kita. 
Aku menyayangimu, Ly. Aku mencintaimu, Lily Aron. 
Aku suka ketika kita bertukar pikiran, mengomentari berita-berita televisi, atau bercerita sedikit tentang masa kecil masing-masing, dan sekedar mengisi memoriku yang hampa. Terimakasih, terimakasih. Karena telah memberikkan secuil kenangan yang dapat kubanggakan.
Carilah lelaki yang dapat memberikkanmu hal yang lebih baik dari apa yang ku berikkan padamu.
Berbahagialah Ly, demi aku.
Your friend,
                                                                                                                                                                        Zayn

Setiap kalimat bahkan kosakata itu tak berhentinya di tatap, seakan-akan semua huruf dan spasi itu punya kaki dan akan pergi dari kertasnya. Tapi menurut Lily Aron kalau memang huruf dan spasi itu ingin pergi, silahkan saja, tapi terkecuali satu kalimat itu. Biarkanlah ia tetap disitu.
Aku menyayangimu, Ly. Aku mencintaimu, Lily Aron.
Tidak ada kalimat yang lebih penting dari itu.
Setidaknya masih ada satu alasan untuk dia terus bernapas.
Karena, Zayn Malik mencintainya.

END

Kamis, 29 Mei 2014

Breath In Twilight

Dewi Chani presents
An Alternate Universe competition fiction
“Autumn: Breath In Twilight”
Summary: Cinta yang bernafas sesederhana senja dimusim gugur. Lelaki bermata biru dengan bibir tipis dan rambut blondenya. Gadis datar  yang –sangat— biasa saja, dengan rambut hitam yang selalu terurai rapi dengan jepitan kecil disana. Sadarkah mereka bahwa tangan takdir sedang menuliskan sesuatu dibawah langit England itu?

Happy reading!

Dibawah langit England.
Musim gugur ternyata sudah dimulai.
Daun-daunan kering dijalan terlihat seperti sampah romantis.
Angin-angin berhembus dengan angkuhnya.
Raja siang hampir saja menghilang di ufuk barat.
Untuk kesekian kalinya nafas berat itu dibuangnya lagi.
Niall Horan, seseorang yang sedari tadi memandangi musim gugur ditemani nafas-nafas panjang yang dihirup-ditahan beberapa menit-lalu dihembuskan. Dia baru saja akan membuang nafas lagi ketika apa yang di tunggunya itu pada akhirnya masuk kedalam saluran penglihatannya.
Gadis itu. Gadis dengan rambut hitam terurai dengan jepitan hijau diponi kanannya. Gadis yang selalu menikmati senja. Gadis yang punya sihir magis untuk menarik bibir tipisnya membentuk senyuman. Gadis yang diperhatikkannya dari jauh. Tentu saja gadis itu juga yang.. membuatnya jatuh cinta dalam diam dan jarak.
Niall menghampirinya untuk pertama kali, “Kau hampir kelewatan sunsetnya.”
“Sudah bosan melihatku dari jauh?”
 “Apa?”
***
“Kau tahu aku sering memperhatikanmu dari jauh waktu itu, Ly?”
“Tentu  saja.”
“Kau tidak takut?”
“Aku tidak peduli, toh, setidaknya aku merasa kau bukan hantu atau orang yang berniat jahat.”
“Cih. Mulai sekarang aku akan berniat jahat.”
“Yak! Niall Horan berhentilah mencubit hidungku!”
“Sudah kubilang aku akan berniat jahat padamu, Lily Aron!”
***
 Niall sudah mengenalnya lebih dari satu bulan. Namanya Lily Aron, rumahnya tidak jauh dari taman tempat gadis itu menunggu senja. Apalagi? Gadis baik-baik dari keluarga yang baik, gadis biasa, datar, walau terkadang banyak bicara juga. Tidak ada yang membedakkannya, terlihat sama seperti gadis yang lain. Atau justru mungkin Niall yang berbeda semenjak kehadirannya?
Ya.
Tempo jantungnya sudah berbeda.
Fokus matanya sudah berbeda.
Lengkungan bibirnya sudah berbeda.
Semua hal rasanya berbeda, ketika bersama Lily Aron.
“Ly, apa ibumu membuat pudding coklat lagi?”
“Tidak.”
“Jangan bohong! Kau hanya tidak mau aku datang kerumahmu!”
“Kau sangat mengenalku, Horan.”
“Cih. Pokoknya jam tujuh malam aku kerumahmu, Aron.”
“Terserah.”
***
Mereka berdua fokus pada senja. Seperti biasa.
“Senja.”
“Sesuatu yang mempertemukan kita, nona.”
“Jangan sok puitis, tuan.”
“Aku mau bertanya.”
“Katakan.”
“Lily Aron, maukah kau menjadi senjaku?”
“Apa?”
“Senjaku. Menemaniku sampai nyawaku tenggelam.”
“Sama sekali tidak lucu.”
“Karena aku memang sedang tidak bercanda.”
“Aku pulang.”
“Hei!”
Niall menggacak-ngacak rambutnya frustasi. Apa gadis itu baru menolaknya? Bukankah selama ini gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda tidak menyukainya?
***
Now Playing > In My Life – The Beatles
THERE ARE places I'll remember.. All my life, though some have changed…” Lily bersenandung—atau lebih tepatnya medesis sangat kecil— mengikuti suara milik John Lennon dari earphone yang menyumbat kedua telinganya sambil terus memandangi jalanan yang dipenuhi daun-daun maple kering. Sampai tiba-tiba ponsel yang ditaruh di saku bawah kemeja kesayangannya bergetar.
Lily menyernyitkan dahinya terganggu, dan merogoh sakunya. Mendapati ponselnya yang berdering. Lily menatap ponselnya lalu berdecak.
Incomming Calls.
“Oh, Dear. Lagunya baru mulai.
Lily menekkan salah satu tombol di layar ponselnya, dan sedetik kemudian ia mendapatkan omelan dari suara disebrang sana. “Ya. Halo. Tidak membalas apa?..  Aku tidak mengecek kotak masuk pesanku…… Aku masih di bus, Vinnie, sudah jangan mengomel... Sekitar setengah jam lagi aku sampai …….Ya, ya. Baiklah. Akan kuhubungi  jika sudah sampai di halte.”
***
Vinnie membuat laju mobilnya pelan ketika ia melihat seseorang yang tak asing baginya berdiri di halte. Seseorang itu, sepupunya, Lily—gadis itu terlihat lebih kurus dan dalam keadaan yang jelas sangat tidak baik.
Vinnie menepikan mobilnya dan memberhentikannya di hadapan Lily yang sedang berdiri. Lalu menurunkan kaca mobilnya, “Hai, manusia datar.”
Lily tersenyum tipis –nyaris tak terlihat— pada Vinnie, lalu membuka pintu mobil dan mengambil kursi kosong disamping kemudi dengan satu gerakan mulus.
Mobil Mini Cooper itu mulai melaju.
“Bagaimana London?"
“Tidak sebaik Round Maple.”
Vinnie melirik sekilas Lily Aron yang tepat di sampingnya. Gadis itu, mencintai Round Maple –kota tempat tinggal Vinnie sekaligus tempat tinggal Lily dulu—  lebih dari apapun. Lebih dari kotanya sekarang.
“London kotamu sekarang, Ly.”
“Tidak ada daun maple kering berserakkan di jalanan karena petugas kebersihan, tidak ada suara anak kecil di taman karena sibuk dengan gadget,  tidak ada pohon besar untuk berteduh karena gedung pencakar langit, tidak ad—“
“Dan tidak ada Zayn?”
Vinnie tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Lily untuk pertanyaan yang ini.
“Berhentilah membanding-bandingkan kotamu dengan kotaku.”
“Aku hanya memaparkan kenyataan.”
“Kau hanya menyukai Round Maple karena terlalu banyak yang terjadi padamu di kota ini.”
“Bagus, berarti ada alasan mengapa aku menyukainya.”
“Kau lebih punya alasan kuat untuk menyukai London.”
“Apa?”
“Karena London adalah kotamu.”
Dan tak ada jawaban lagi dari Lily.
“Nikmati hari-harimu di Round Maple sekarang, dan aku yakin demi apapun kau akan merindukkan London. Gedung pencakar langitnya, tamannya yang tenang, jalanannya yang bersih.”
Lily membuka mulutnya, “Turunkan aku di taman biasa.”
Gadis bernama lengkap Vinnie Aron itu memutar kedua bola matanya kesal.
***
Lily berlari kencang ke arah sebuah pohon besar, mencari-mencari sesuatu di tanah dekat pohon itu, hingga akhirnya dia menemukan sebuah catatan kecil lusuh disana. Dia mengatur nafasnya, menyampirkan rambutnya kebelakang telinga, dan mulai membuka catatan lusuh itu.
Membuka masa lalu.
Hal yang sudah dia pendam selama ini..
Sesuatu yang kasat mata dan berbentuk abstrak tapi selalu ada dihatinya…
Tangannya mulai bergetar, rahangnya merapat, dan cairan tak berwarna itu lolos dari matanya. Dia mulai terisak. Dia terus membolak-balik catatan itu sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya sendiri. Menghabiskan malam itu dengan bulan yang hanya setengah.
 Jika cintaku telah pergi, apakah aku harus pergi juga?
Jika cintaku telah pergi, apakah aku harus melihat untuk cinta baru?
Apa yang harus kulakukan?
***
Sudah tiga hari, gadis itu menghindarinya. Bahkan dia tidak lagi menunggu senja seperti biasa. Niall merasa bersalah.
Apa?
Apa mengungkapkan perasaannya salah?
Apa itu membuatnya terlihat menjijikkan?
Sungguh dia hanya ingin tahu keadaan gadis itu, bukan untuk meminta jawaban atas pertanyaannya waktu itu. Dia ingin melihatnya.
Sekarang dia ada didepan rumah keluarga Aron. Niall memencet bel disamping pintu kayu itu.
“Niall?”
“Iya, Mrs. Apa aku bisa bertemu Lily?”
“Maaf, tap—“
“Hanya lima menit. Sungguh aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Kumohon.”
“Bukan begitu, tapi Lily memang benar-benar tidak ada dirumah. Ia berkunjung kerumah sepupunya.”
Niall ingin sekali bertanya dimana alamat sepupunya itu, tapi bukankah itu terlalu tidak sopan?
“Ah baiklah. Terimakasih, maaf mengganggu Mrs.”
“Niall.”
“Ya?”
“Masuklah. Ada yang ingin ku bicarakan.”
***
“Dia bukan anak kandung kami. Kami mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Dia anak yang sangat ceria, membuat keluarga kami lebih ramai. Tapi itu sebelum Zayn meninggal.”
“Zayn?”
“Teman dekat Lily dirumah kami yang dulu. Sejak Zayn meninggal, dia terlihat seperti mayat hidup setiap keluar rumah, itu alasan kenapa kami pindah kesini. Entahlah, dia terlihat seperti trauma. Aku rasa dia benar-benar berusaha  memendam semua tentang Zayn. Aku sangat senang ketika dia akhirnya membuka dirinya untuk berteman denganmu. Dan kurasa sekarang ada sesuatu lagi yang membuatnya meningat Zayn.”
“Aku yang membuatnya mengingat Zayn. Maaf.”
“Apa?”
“Aku menyukainya, Mrs. Aku menyatakan perasaanku padanya. Dan semenjak itu dia menghindariku.”
“Buat dia bahagia, Niall.”
“Mrs?”
“Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan padanya. Harapanku hanyalah dirimu. Aku rasa dia juga menyukaimu.”
“Menyukaiku? Tapi…”
“Dia hanya takut mengalami apa yang dulu dia rasakan ketika menyukai Zayn. Kurasa dia hanya menyembunyikkan perasaannya padamu.”
“Benarkah?”
“Lily selalu mengatakkan jika ‘bahagia diakhir’ sama sekali bukan tipenya. Dan kurasa dia masih merasa seperti itu sekarang.”
Dengan satu gerakan mulus, Niall berdiri dari sofa empuk itu.
“Aku pamit, aku harus pergi sekarang, Mrs.”
“Mau kemana?”
Kepala Niall menunjuk ke arah pintu keluar, “Membahagiakan putrimu, tentu saja.”
Mrs. Aron sontak tersenyum simpul mendengar jawaban Niall. Dia tidak salah memilih untuk anaknya.
***
Sudah empat hari sejak Niall menyatakkan perasaannya. Itu berarti sudah tiga hari dia tinggal dirumah sepupunya, Vinnie Aron.
Gadis berambut hitam rapi itu memandang dunia luar dari jendela kamar.
Daun-daun kering yang jatuh itu gugur bersama hembusan angin, seperti hatinya yang ikut gugur bersama hembusan nafas terakhir Zayn.
Zayn. Masa lalunya. Seseorang yang membuatnya merasa lengkap ketika bernafas. Seseorang yang ia ‘kira’ adalah separuh jiwanya. Seseorang yang membuatnya seperti dipukul beban saat ditinggal pergi. Seseorang yang membuat ia menutup pintu hatinya.
Dan disaat Lily hampir saja memendam semua tentang Zayn dalam hatinya, lelaki bernama Niall itu menyatakkan cinta padanya. Bukan tidak suka. Bukan karena ia masih menyukai Zayn. Tapi karena ia tak pernah diperlakukan seperti itu. Ia takut, ia takut memulai hal yang menyenangkan. Dia merasa bahagia itu bukan tipenya.
Karena setiap dia bahagia, pasti selalu ada sesuatu yang salah disana.
Tapi.. dia tak bisa membohongi perasaannya. Lelaki dengan rambut blonde dan tingkah-tingkah menyebalkan. Lelaki yang selalu menemaninya menonton senja.  Lelaki itu mengobati luka hatinya, dan berhasil membuat pintu hatinya sedikit terbuka.
Ya, musim…. Gugur. Hatinya juga.
Lily mengambil kertas lusuh didalam saku bajunya. Surat dari Zayn.
Dear Lily, bunga musim panasku…
Aku tak tahu apa tujuanku menulis ini. Mungkin ini terlihat seperti drama-drama, tapi… mungkin aku tidak bisa mengungkapkan kalimat-kalimat sepuitis ini secara langsung padamu. Bukan tidak mau Ly, aku tidak bisa. Kau tau,  bukan? Penyakit hepatitis ini membuatku terlihat sangat lemah. Bodoh. Pengecut. Bahkan untuk sekedar mengungkapkan perasaanku pada gadis yang kusukai saja tidak bisa.
Ly, aku sakit. Disini, di dadaku rasanya sakit sekali. Aku lelah seperti ini. Tapi aku menahannya. Karena aku punya hal yang dapat membuatku bertahan. Bukan obat-obatan, tapi kau.
Aku sangat merasa tidak adil saat aku hidup ditemani penyakit yang menggerogoti tubuhku. Tapi aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena mempertemukan kita.
Aku menyayangimu, Ly. Aku mencintaimu, Lily Aron.
Aku suka ketika kita bertukar pikiran, mengomentari berita-berita televisi, atau bercerita sedikit tentang masa kecil masing-masing, dan sekedar mengisi memoriku yang hampa. Terimakasih, terimakasih. Karena telah memberikkan secuil kenangan yang dapat kubanggakan.
Carilah lelaki yang dapat memberikkanmu hal yang lebih baik dari apa yang ku berikkan padamu.
Berbahagialah Ly, demi aku.
Your friend,
                                                                                                                                                                        Zayn
***
Vinnie menatap Lily yang menghabiskan harinya hanya dengan memandang jendela.
“Berhenti memasang tampang datar seperti itu, Lily Aron.”
“Aku benar-benar sedang ingin sendiri, Vinnie Aron.”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Apa yang harus kulakukan, Vin?”
“Bisakah kau berhenti bertanya pada orang lain?”
“Apa?”
“Mungkin ini terlalu puitis. Tapi ada beberapa hal yang tak perlu kau tanyakkan.”
“Lalu?”
“Hatimu pasti tau kemana harus berlabuh.”
***
Niall menatap senja di hadapannya, kembali dengan hembusan nafasnya.
Sama seperti ia menunggu gadis itu dulu.
Dan kali ini dia juga harus menunggu.
Lagi.
Bukannya dia tidak mau menghampiri Lily lebih dulu ke rumah sepupu gadis itu. Bahkan Mrs. Aron menawarkan alamatnya, tapi dia menolak. Lelaki berambut blonde ini memilih menunggu Lily datang. Membiarkan gadis itu menata perasaannya dulu. Agar gadis itu bebas memilih apa yang ia mau.
Bukannya tidak mau memperjuangkan cintanya, hanya dia tidak ingin melihat gadis itu tertekan. Dan dialah penyebabnya. Membuat gadis itu hilang dari rumahnya berhari-hari. Dia merasa, mencintai Lily Aron hanya sebuah kesalahan.
Jika memang mencintai Lily itu salah, maka Niall tidak akan pernah ingin menjadi benar.
Tapi, sungguh..
Niall tidak pernah menyesali waktu dimana ia menghampiri gadis itu untuk pertama kali. Membiarkan pisau keberanian itu memotong jarak.
Dan…
Niall juga tidak pernah menyesali waktu dimana ia menyatakkan perasaannya pada gadis itu. Membiarkan coretan abstrak dan kasat mata bernama ‘cinta’ itu tak dapat hapus lagi.
Dia benar-benar bersyukur dengan semua yang dia pernah lakukan untuk gadis itu.
Dusta, jika dia bilang ini tidak menyakitkan.
Dia mencintai seseorang dan sudah menyatakkannya, tapi dia tidak bisa memperjuangkan rasanya.  
Seperti ikut kompetisi dan sudah mengikuti persyaratannya, tapi dia tidak bisa apapun sampai menunggu hasil keputusan juri.
Memendamnya dalam diam. Menunggunya. Seakan-akan tidak ada usaha lagi untuk mendapatkannya.  Padahal, memang itu ketentuannya.
Cinta itu tentang meng-komitmen-kan dua puzzle yang berbeda. Niall sudah berusaha menawarkan diri agar puzzle miliknya dan puzzle Lily disatukan, dan sekarang semuanya tergantung Lily. Bersedia menyatukkan puzzle-nya  juga atau tidak.
Maka cintanya pada gadis itu betul-betul bisa mengalahkan egonya. Tulus.
“Bodoh.”
 Niall mendongakkan kepalanya, dan mendapati Lily dihadapannya. “Lily?”
“Menyatakkan cinta padaku, lalu kutinggal pergi. Hanya melihat senja yang dapat kau lakukan setelah itu?”
Lily mengambil duduk di bagian kursi taman yang masih kosong. Niall menatapnya dengan alisnya yang menyambung karena bingung. Tapi terlihat  sangat senang. Tentu saja, matamu seperti blur berhari-hari dan kini titik fokus itu kembali duduk di sampingmu.
“Aku… Bukan begitu, Ly.”
“Aku dengar ibuku menawarkan alamat rumah sepupuku, dan kau malah menolaknya. Benar?”
Lily sama sekali tidak menoleh. Dia memfokuskan matanya pada senja.
“Aku hanya ingin memberimu waktu untuk menata perasaan. Maaf.”
“Maaf? Untuk apa?”
“Karena membuatmu mengingat Zayn,” Niall juga ikut memalingkan pandangannya pada senja.
“Aku merindukannya. Aku sangat merindukan Zayn, Niall.”
Niall memenjamkan matanya. Menikmati angin. Memperkecil sakit didadanya. “Aku tahu.”
“Aku ragu tentang perasaanmu padaku, Niall. Berhari-hari tak melihatku kau hanya diam seperti itu.”
“Lily, aku.. aku hanya tidak ingin membuatmu pergi lagi jika aku memperlihatkan perasaanku.”
“Perlihatkan sekarang.”
“Apa?”
“Perasaanmu padaku.”
“Ly…”
“Perlihatkan. Dan aku takkan pergi.”
Niall menatap gadis itu. Matanya masih tetap setia pada senja, dan rambutnya yang terurai rapi kini terbawa angin. Ekspresinya… entah. Seperti biasa. Datar.
Niall menahan nafasnya.
“Aku tidak memaksamu untuk yakin pada perasaanku. Aku tidak berniat untuk membuatmu  mengingat Zayn. Aku hanya ingin menyatakkan perasaanku waktu itu, dan aku hanya berharap kau bisa menerimaku. Tapi aku juga menerima kalau kau tidak bisa membalas perasaanku. Aku tidak suka melihatmu tertekan. Sungguh.” Niall memejamkan matanya, “Aku minta maaf, tapi aku mencintaimu, Lily Aron.”
Pria berbibir tipis itu membuka matanya, “Aku tahu bahagia diakhir itu bukan tipemu. Aku tahu kau takut mencobanya lagi. Jadi, bukannya aku tak memperjuangkanmu, aku hanya tak ingin membuatmu tertekan. Ini bebas. Kau hanya perlu menjawab sesukamu, Ly. Lily Aron, maukah kau menjadi senjaku?”
Lily menoleh ke arah Niall yang menatapnya. “Tidak.”
Niall memejamkan matanya lagi. Dan yang kali ini lebih lama. Hatinya gugur.
Dia mendengarnya. Jawaban yang paling punya kemungkinan paling besar.
Satu pertanyaan dalam pikirannya: ‘Apa alasan dari kata ‘tidak’ itu?’
Jika alasannya adalah Niall tidak cukup pantas untuk gadis itu.. Dia sadar diri. Karena itu berarti ada kemungkinan untuk melihat gadis itu bahagia walaupun bukan dengannya.
Jika alasannya adalah gadis itu mencintai Zayn.. Dia juga akan mengerti. Karena itu juga berarti ada kemungkinan untuk melihat gadis itu jatuh cinta lagi pada pria walaupun bukan dengannya.
Tapi jika alasannya adalah gadis itu ragu akan perasaannya.. Dia tidak akan sadar diri atau mengerti. Karena, dia akan sakit.
Niall tidak bisa berbohong; ini benar-benar menyakitkan ketika seseorang meragukkan cintamu.
***
“Tidak.”
Lily melihat lelaki itu memejamkan matanya.
“Aku tidak mau menjadi senjamu.”
Lelaki itu membuka matanya, lalu tersenyum. “Tak masalah.”
“Tapi aku mau jadi nafasmu.”
“Apa?”
“Senja tak muncul setiap saat, sedangkan nafas selalu ada selama hidupmu. Sampai mati.”
“Ly?”
“Mungkin bahagia di akhir bukan tipeku. Tapi aku sadar bahwa aku tidak punya hak untuk menghalangi kebahagianmu. Aku juga mencintaimu, Niall Horan.”
Tubuh Niall beku. Gadis dihadapannya memeluknya. Dia rasa musim gugur sudah menjadi musim salju sekarang. Terlalu dingin, untuk tidak berpelukkan dihadapan senja.
Senja, terimakasih, aku sudah mendapatkan nafasku. –Niall Horan—
***
Lily menempelkan ponsel di telinganya sambil tersenyum mengingat kalimat yang keluar dari mulut seseorang di sebrang sana.
“Bagaimana London?”
“Lebih baik dari Round Maple, tentu saja.”
Suara tawa renyah Vinnie terdengar, “Senang mendengarnya. Apa yang membuatmu berpikir begitu, Lily Aron?”
“Aku lebih bisa menghargai kotaku sendiri setelah mengunjungi kota orang lain.”
“Liburan musim panas tahun ini aku ke London.”
“Dan aku yakin demi apapun kau akan merindukkan Round Maple.”
“Itu script-ku, Ly!”
Lily tertawa kecil –dan itu pertama kalinya Vinnie mendengarnya tertawa semenjak Zayn meninggal, “Vinnie.”
“Ya?”
“Hatiku berlabuh di London.”
***
FIN
So that’s why, I must go to England.
Seperti Lily, aku ingin lebih menghargai tempat tinggalku, Indonesia.

Learn more about others countries make ourself learn more details about our country too.


Sabtu, 22 Desember 2012

Without you, dear.

aku tak tahu, tapi aku sadar ini bukan karma.
aku tak tahu, tapi semua orang mengatakan padaku bahwa ini karma.
apa ini dulu yang kau rasakan? itu dusta.
mungkin, sesakit ini kamu? dan aku yakin ini juga dusta.
aku tak pernah yakin kau sakit karena aku, merindukanku, memerhatikanku, kecuali aku percaya ketika kau 'pura-pura' menatapku. 
jika ini karma, aku mau karmaku kembali padamu walau itu artinya aku juga akan punya karma lagi. tapi tak masalah lagi, karena tanpa karma aku sudah berkali-kali jatuh cinta lagi padamu. entahlah, tapi kau bagaikan bulan diantara bintang-bintang yang selalu dipuja-puja. kau yang terlihat beda. kau titik fokusku, dan bintang-bintang itu 'blur' dipandanganku. kau yang membuat bintang-bintang luar biasa itu terlihat begitu biasa.
dan kini, satu yang kutahu: aku mulai merajut hidupku. dan itu, tanpamu.
aku selalu mencarimu, saat kau tak ada dalam penglihatanku.
aku selalu menatapmu, saat wajahmu memenuhi saluran mataku.
aku selalu memerhatikanmu, saat kau tak merasakan itu.
aku selalu tahu lebih banyak tentangmu, saat kau anggap semua ini permainan belaka.
aku selalu bertahan, saat aku tahu kau benar-benar sengaja menyakitiku.
dan aku selalu berharap, kau menatapku seraya tersenyum lalu berkata, "kau bulanku." sambil terus memasang senyum itu.
bertahan itu menyenangkan? dusta.
aku bilang kepada semua jika aku menikmati masa-masa bertahanku? itupun dusta.
terlalu banyak kerinduan, kebahagiaan, kesakitan, dan kata-kata yang dirangkai hanya untuk mengungkapkan semua ini.
dan ungkapan itu untukmu, agar kau tahu lebih dalam tentangku.
dan lagi-lagi kau berakting tak perduli dengan seraya 'pura-pura' menatapku.
setidaknya, ini berlebihan tapi aku tidak sama sekali menyesal.
karenamu aku tahu tentang rasanya memeluk bulan, rasanya bertahan, berhenti bertahan dan melepaskan pelukku dari bulan itu.
semua itu secara langsung membuatku tahu satu hal: semua rangkaian kata ini, semua kerinduan dan kebahagiaan ini sungguh TAK LAYAK untukmu.
cukup kamu tau, masih banyak yang membutuhkan rinduku, kataku, dan kebahagiaanku.setidaknya aku tidak menyesal, walau akhirnya aku tahu kau tak layak untukku. 
kau tak lebih dulu mengajakku berinteraksi, aku coba mengerti.
kau berakting tak sama sekali peduli padaku, aku coba untuk sangat mengerti.
tetapi ketika aku memutuskan untuk berhenti bertahan, itu saatnya giliranmu untuk benar-benar mengerti.