Yang salah dari seorang perempuan adalah: kamu selalu bilang sulit sekali untuk percaya terhadap laki-laki. Hatinya penuh dengan keraguan, menagih bukti, menyangkal diri untuk jatuh hati pada kata-kata. Tetapi nyatanya, saat dia tak bisa berikan bukti yang cukup kuat untuk dianggap serius, kamu kembali pada ‘kata-kata’nya. Pada pengakuan-pengakuan nya tentang perasaan, pertanyaan-pertanyaan nya yang perhatian, harapan-harapan nya soal masa depan, kalimat-kalimat nya yang meyakinkan. Kamu mungkin ragu, tapi itu satu-satu nya yang tersisa. Sesuatu yang pernah dia nyatakan, dan kamu harap itu semua benar. Kamu harap kamu satu-satunya yang pernah mendengar. Kamu harap kata-kata itu dapat di pegang.
Lalu kamu sadar: mereka hanya deretan bunyi dari bibirnya yang merambat melalui udara, lalu musnah begitu saja. Sampai di telingamu, lalu hilang, tak berbentuk, tak tersisa. Hanya masih ada dalam satu tempat: ingatan.
Mereka hanya spasi dan huruf tak nyata di layar ponsel. Tak punya arti, tak punya makna. Bisa di di ketik oleh siapa saja, dimana saja, kapan saja. Dan di kirim kepada siapa saja.
Bahkan bisa saja saat dia panggil kamu “sayang”, di tangannya yang satu lagi, ada sebuah genggaman jemari lain.
Jumat, 02 Juni 2017
Cerita Pendek Teller Service
May, 2017
Just hoping it will give those whom read this some good thoughts or inspirations.
Hari itu, sekitar beberapa hari yang lalu, saya menangis di balik loket Teller Service. People might think I am overact, but this is exactly what I feel. Saya masih ingat jelas nama beliau, Ibu Maria, yang sampai di hadapan saya di dampingi suami dan anak laki-lakinya. I’ll make it simple: she is blind. Suami nya pun punya kekurangan yang sama, buta, namun satu mata. But he is still right beside her, menggengam jemari kanan Bu Maria, mengarahkan, walaupun dengan satu mata. Hal pertama yang membuat hati saya mencair adalah ketika saya lihat sosok di sisi kiri Bu Maria, anaknya. I thank Allah for thousand times in heart. He’s normal. Maha Besar Allah dan segala kuasa-Nya.
For information, awalnya pasti saya tidak bisa sembunyikan ekpresi wajah yang berbeda ketika baru petama kali berhadapan dengan keluarga kecil itu, tetapi saya kontrol mimik wajah saya, kembali ke muka-saat-melayani-nasabah. Walaupun saya tahu beliau tak lihat.
Saya juga tidak memperlakukan beliau dengan pelayanan ‘special’ atau semacamnya. I treat her and family like common customers. Tidak mau berbeda. Karena, beliau punya harapan yang sama di hatinya, bahwa kekurangannya tak boleh kurangi hak nya sebagai manusia, contohnya, masih bisa menabung di bank. She wants to be treat like normally person. So I am.
Tetapi yang membuat saya menangis bukan karena anak laki-lakinya sempurna, atau karena ketidakputus-asa-an beliau.
Melainkan sikap anak Bu Maria, ucapan-ucapan kecil nya seperti “Ayah kasih buku rekeningnya,” dan “Mah kasih KTPnya,” lalu dia yang saya minta bantu untuk tanda tangan di slip sesudah transaksi.
He’s totally cool boy. Kenyataan bahwa dia tidak malu dengan keadaan orang tua nya di depan publik, lovely boy who is holding his mother’s hand. Take care of his father too. And growing up well. It all thoughts touched my heart.
Bukan menangis karena iba, tetapi karena saya senang, saya sadar: Allah ciptakan kekurangan pada Bu Maria dan suaminya, karena Allah akan titipkan sebuah kelebihan berupa anak laki-laki yang kuat dengan hati besar.
It always nice to meet new people. 💛
Just hoping it will give those whom read this some good thoughts or inspirations.
Hari itu, sekitar beberapa hari yang lalu, saya menangis di balik loket Teller Service. People might think I am overact, but this is exactly what I feel. Saya masih ingat jelas nama beliau, Ibu Maria, yang sampai di hadapan saya di dampingi suami dan anak laki-lakinya. I’ll make it simple: she is blind. Suami nya pun punya kekurangan yang sama, buta, namun satu mata. But he is still right beside her, menggengam jemari kanan Bu Maria, mengarahkan, walaupun dengan satu mata. Hal pertama yang membuat hati saya mencair adalah ketika saya lihat sosok di sisi kiri Bu Maria, anaknya. I thank Allah for thousand times in heart. He’s normal. Maha Besar Allah dan segala kuasa-Nya.
For information, awalnya pasti saya tidak bisa sembunyikan ekpresi wajah yang berbeda ketika baru petama kali berhadapan dengan keluarga kecil itu, tetapi saya kontrol mimik wajah saya, kembali ke muka-saat-melayani-nasabah. Walaupun saya tahu beliau tak lihat.
Saya juga tidak memperlakukan beliau dengan pelayanan ‘special’ atau semacamnya. I treat her and family like common customers. Tidak mau berbeda. Karena, beliau punya harapan yang sama di hatinya, bahwa kekurangannya tak boleh kurangi hak nya sebagai manusia, contohnya, masih bisa menabung di bank. She wants to be treat like normally person. So I am.
Tetapi yang membuat saya menangis bukan karena anak laki-lakinya sempurna, atau karena ketidakputus-asa-an beliau.
Melainkan sikap anak Bu Maria, ucapan-ucapan kecil nya seperti “Ayah kasih buku rekeningnya,” dan “Mah kasih KTPnya,” lalu dia yang saya minta bantu untuk tanda tangan di slip sesudah transaksi.
He’s totally cool boy. Kenyataan bahwa dia tidak malu dengan keadaan orang tua nya di depan publik, lovely boy who is holding his mother’s hand. Take care of his father too. And growing up well. It all thoughts touched my heart.
Bukan menangis karena iba, tetapi karena saya senang, saya sadar: Allah ciptakan kekurangan pada Bu Maria dan suaminya, karena Allah akan titipkan sebuah kelebihan berupa anak laki-laki yang kuat dengan hati besar.
It always nice to meet new people. 💛
Kamis, 17 November 2016
Hai, Atom.
Orang bilang,
Cinta itu seperti proton dalam atom, sifatnya positif dan hakiki—hal yang tidak dapat dipotong ataupun sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
Dan aku atom yang baru saja kehilangan protonku, begitupun juga kamu. Terdengar tepat, kan?
Senang sekali...
Saling memahami perasaan, tanpa diucapkan.
Saling berbagi sakit, tanpa keberatan.
Saling menenangkan, tanpa sengaja.
Saling mengobati, tanpa sadar.
Sampai, proton-mu kembali.
Lalu aku bukanlah apa-apa lagi.
Ternyata,
Hanya insan yang satu nasib.
Hanya obat yang saling menyembuhkan.
Hanya dekat yang tak sengaja menimbulkan nyaman.
Kemudian bagaimana?
Atom harus bersama proton, sudah mutlak dipasangkan. Tak bisa di bagi-bagi. Memang selalu punya cara untuk kembali.
Jadi, terimalah.
Aku; atom yang dikutuk, dan protonnya tidak pernah kembali.
Kamu; atom yang sudah kembali sempurna.
Dan,
Kita; hanya ketidak-sengajaan yang tak ada arti.
Cinta itu seperti proton dalam atom, sifatnya positif dan hakiki—hal yang tidak dapat dipotong ataupun sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
Dan aku atom yang baru saja kehilangan protonku, begitupun juga kamu. Terdengar tepat, kan?
Senang sekali...
Saling memahami perasaan, tanpa diucapkan.
Saling berbagi sakit, tanpa keberatan.
Saling menenangkan, tanpa sengaja.
Saling mengobati, tanpa sadar.
Sampai, proton-mu kembali.
Lalu aku bukanlah apa-apa lagi.
Ternyata,
Hanya insan yang satu nasib.
Hanya obat yang saling menyembuhkan.
Hanya dekat yang tak sengaja menimbulkan nyaman.
Kemudian bagaimana?
Atom harus bersama proton, sudah mutlak dipasangkan. Tak bisa di bagi-bagi. Memang selalu punya cara untuk kembali.
Jadi, terimalah.
Aku; atom yang dikutuk, dan protonnya tidak pernah kembali.
Kamu; atom yang sudah kembali sempurna.
Dan,
Kita; hanya ketidak-sengajaan yang tak ada arti.
Rabu, 30 Desember 2015
2015 told me...
[365/365]
Saya pikir 2015 akan
penuh dengan masalah. And yes, exactly. But behind the problems…
2015 told me a lot of things,
Mulai dari jatuh karena kehilangan pondasi,
Kemudian mengambil keputusan untuk bangkit lagi,
Untuk tidak bergantung pada apapun selain diri sendiri,
Berteman baik dengan yang dulu sejauh matahari,
Membenci manusia yang dulu sedekat nadi,
Bertemu dengan banyak sekali orang munafik—
Tetapi seribu lebih banyak orang baik,
Lalu yang tersulit; memaafkan tanpa diminta,
Belajar menerima keadaan,
Meredupkan penyesalan,
Membuat pondasi baru sendiri,
Karena sudah pernah jatuh—dan tak akan lagi,
Dan yang terakhir, yaitu,
Arti keluarga.
Mungkin memang bukan keping hidup yang selalu indah, bahkan
kadang hancur dan tak lengkap. Tetapi percayalah, inilah kepingan terbesar
semua insan, keluarga berarti kebahagiaan.
Mungkin hanya karena tinggal diatas atap rumah yang sama.
Padahal, sebenarnya sebuah tempat pulang.
Mungkin bukan yang mengucapkan “cepat sembuh”, tetapi yang
menyuapi bubur disamping ranjang.
Mungkin bukan yang menyatakkan perhatian, padahal yang
paling peduli.
Mungkin bukan yang memberikan ucapan dan hadiah ulang tahun,
tetapi yang selalu menyebut namamu dalam doanya.
Mungkin mereka bukan yang terbaik, tetapi selalu mengingikan
hal baik terjadi padamu.
Jadi, berhentilah
sebentar.
Menjauhlah,
Jangan terlalu dekat—
Sampai tak bisa
dibaca, seperti kalimat tanpa spasi.
Sampai tak bisa di
dengar, seperti bunyi tanpa jeda.
Sampai tak bisa
berfungsi, seperti ventilasi tanpa sela.
Karena jarak
memperbaiki keadaan dengan;
Menciptakan ruang,
Menghadirkan rindu,
Menciutkan ego,
Memberi kesempatan
pada kejujuran,
Menyadarkan tentang
keberadaan yang berharga.
Perhatikan sekitarmu.
Apa yang selama ini di anggap biasa saja, ternyata sangat berharga.
Selamat tahun baru
2016.
Senin, 12 Oktober 2015
Tersenyumlah
TERSENYUMLAH
Karya: Dewi Nurcahyani
Gadis berkemeja batik—atau yang
lebih terlihat seperti motif kotak-kotak— itu akhirnya duduk tegak, setelah
sekian lama menelungkupkan kepalanya di meja. Dia menatap kertas putih bergaris
dan tentunya pena bertinta hitam—yang tadi ia beli di toko dekat rumahnya—
dengan tatapan bingung. Diperhatikannya ruangan tempat ia berada itu, semua
orang yang juga berpakaian batik duduk sambil menggoreskan tintanya. Lancar. Menjatuhkan
imajinasinya ke dalam rangkaian huruf yang dipisahkan spasi. Sedangkan dirinya,
sedang sibuk merutuki keberadaannya diruangan itu. Bayangan-bayangan menonton
kartun kesukaannya di Sabtu pagi menyesap di otaknya. Bayangan itu mungkin
sedang menjadi realita sekarang, kalau saja lelaki bernama Gabriel yang notabene
teman sekelasnya itu, tidak seenak keningnya mendaftarkan ia di lomba menulis
cerita pendek yang di adakan sekolahnya.
Baiklah, sekarang menulis. Tentang kebudayaan
dunia kita. Apa yang terlintas? Menari? Bernyanyi? Makanan khas? Adat istiadat?
Bosan. Sudah sering, mainstream. Atau..
kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging pada dunia? Seperti budaya telat
atau terlalu konsumtif? Menarik untuk dibahas. Menyenangkan untuk membuat
narasi penuh kitik. Karena pada dasarnya bakat utama manusia adalah;
mencari-cari kesalahan. Tetapi tidak untuk hari ini. Sabtu pagi, sinar matahari—dua
hal yang ia sukai setelah menonton kartun— memintanya untuk absen dari bakat
utama manusia yang satu itu. Karena hari ini, gadis itu bertekad menceritakan
kebudayaan dunia yang tidak pernah terjamah sebelumnya. Yang baru ia temukan
barusan.
Mari putar jarum jam dinding hijau
di sisi belakang ruangan itu. Analisis apa dan siapa yang ia lihat dan temui
sebelum sampai disini. Pagi hari, pertama kali yang dilihat adalah Ibunya
sedang memasak. Lalu pamit pada Ayahnya yang sedang membaca koran pagi. Ibu-ibu
toko fotocopy yang memberikannya
pena. Dan di jalan, penumpang Angkutan Umum yang turun di tepian. Remaja perempuan yang menurunkan adiknya—atau anaknya, mungkin— di depan Sekolah Dasar. Panitia lomba
menulis cerita pendek yang menunggu di depan ruangan. Teman—atau saingannya
menulis cerita pendek, sebut saja begitu— yang sebagian kecil di kenalnya. Oh ya,
dan terakhir, wajah pemimpin negara dan wakilnya dibingkai apik pada dinding di
hadapannya.
Menemukan budaya dalam cerita di
atas? Apa? Terdengar seperti keadaan sehari-hari, sangat normal. Gadis–yang
sudah sipit— itu menyipitkan matanya sambil memiringkan kepalanya,
menimbang-nimbang. Jadi, apa hanya dia yang menyadari satu budaya terselip
disana? Budaya yang sangat mendunia. Bisa ditemukan dimanapun, pada siapapun. Budaya
murni yang belum terjamah.
Lengkungan pelangi itu. Hal super
sederhana yang menceritakan emosional empunya. Menerangkan bagi yang
melihatnya. Menyalurkan energi kasat mata. Jika bisa dimakan, mungkin rasanya
manis. Membuat gadis ini semakin percaya bahwa Tuhan menciptakan seratus kebahagiaan,
tetapi disimpan-Nya sembilan puluh sembilan. Dilemparkan satunya ke Bumi. Diberi
nama, senyuman.
Seperti senyum Ibunya yang bergumam
menyuruh sarapan. Senyum Ayahnya di balik koran. Senyum Ibu-Ibu fotocopy yang bergumam ucapan
terimaksih. Senyum ikhlas penumpang Angkutan Umum sembari memberikan uang. Senyum
bangga remaja perempuan pada adiknya. Senyum menyambut kehadiran dari panitia
lomba menulis cerita pendek. Senyum menyemangati—atau meremehkan— para peserta
lomba lainnya. Dan jangan lupa, senyum penuh wibawa bapak Jokowi dan Yusuf
Kalla.
Ah, bahkan… yang terakhir, senyum
gadis itu. Gadis itu tersenyum. Bibirnya terangkat kedua sisi. Matanya berkilat
puas. Dia berusaha melestarikan budaya yang baru saja ia temukan. Budaya yang
menurutnya sangat penting. Dibutuhkan. Semua orang perlu tersenyum. Sedekah paling
sederhana. Gerakan simple pada bibir.
Penangkal keburukan. Kebiasaan abadi dunia. Murni.
Jadi ketika membaca ini….. Tersenyumlah.
Bantu gadis itu melestarikannya.
Selasa, 15 September 2015
Cinta Pertama
Cinta Pertama
Karya: Dewi Nurcahyani
Dia cinta pertamaku
Bukan karena darahnya mengalir dalam tubuhku
Bukan juga karena surgaku di telapak kakinya
Tetapi karena, di sela jari tangannya kucium ridho Allah
Karenanya, aku juga percaya cinta pada pandangan pertama
Pertama kali bicara padaku, disetiap jeda katanya aku mendengar kesabaran
Pertama kali menyentuhku, kurasakan kulitnya selembut kasih
Pertama kali menatapku, kulihat matanya yang mengkilat bagai butiran tasbih
Serta dialah yang memberitahu ku; ‘cinta sejati bukanlah mitos’
Lewat bibir yang diwarnai oleh merahnya kejujuran
Lewat tangan yang penuh gelang sedekah
Lewat wajah yang cerah akan istighfar
Lalu aku bertanya-tanya sendiri
Mengapa ia tidak mempunyai sayap?
Ya Allah, salahkah aku?
Ia hampir terlihat seperti malaikat, tetapi aku malah memanggilnya “Ibu”?
Karya: Dewi Nurcahyani
Dia cinta pertamaku
Bukan karena darahnya mengalir dalam tubuhku
Bukan juga karena surgaku di telapak kakinya
Tetapi karena, di sela jari tangannya kucium ridho Allah
Karenanya, aku juga percaya cinta pada pandangan pertama
Pertama kali bicara padaku, disetiap jeda katanya aku mendengar kesabaran
Pertama kali menyentuhku, kurasakan kulitnya selembut kasih
Pertama kali menatapku, kulihat matanya yang mengkilat bagai butiran tasbih
Serta dialah yang memberitahu ku; ‘cinta sejati bukanlah mitos’
Lewat bibir yang diwarnai oleh merahnya kejujuran
Lewat tangan yang penuh gelang sedekah
Lewat wajah yang cerah akan istighfar
Lalu aku bertanya-tanya sendiri
Mengapa ia tidak mempunyai sayap?
Ya Allah, salahkah aku?
Ia hampir terlihat seperti malaikat, tetapi aku malah memanggilnya “Ibu”?
Sabtu, 22 Agustus 2015
This is my life, my choice
Kalau hidup adalah sebuah perjalan. Maka saya tipikal yang
selalu berjalan lurus, walau banyak persimpangan. Saya tetap memilih untuk
lurus entah apapun yang terjadi. Karena saya tidak berani mengambil resiko
disetiap belokannya, apalagi untuk tersesat.
Lalu suatu saat di salah satu persimpangan, saya bertemu dengannya. Kami –saya dan dia— meneruskan perjalanan bersama. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa perjalanan ini terasa lebih menyenangkan, kami saling bercerita dan mulai mengenal satu sama lain selama perjalanan. Sampai suatu hari, dia meminta saya untuk belok ke arah lain di persimpangan yang kami lewati, saya tegas menolak, saya bahkan mempersilahkan dia belok sendiri dan membiarkan saya tetap berjalan lurus. Tetapi dia menggeleng, dia lebih memilih bersama saya selama perjalanan dibandingkan belok ke arah lain. Saya tidak bisa untuk tidak tersenyum padanya. Saya membayangkan untuk berjalan melewati semua perjalanan hidup saya bersama dia.
Sampai pada suatu waktu selanjutnya di persimpangan dia meminta saya lagi untuk berbelok, saya jelas menolak, dan saya lihat garis kecewa itu di wajahnya. Saya juga enggan membiarkan dia belok sendiri, bagaimana saya melanjutkan perjalanan saya tanpa dia? Maka dia lah satu-satunya alasan mengapa saya belok di persimpangan kali ini. Walaupun jalan di belokan ini terasa penuh kerikil, dan saya mulai merasa tidak nyaman. Tetapi menurut saya ini akan baik-baik saja, selama saya bersama dia. Karena belokan pertama kami itu, kami jadi lebih sering belok di persimpangan berikutnya. Jalan yang saya lewati semakin buruk penuh bebatuan, ini semakin sulit untuk saya berjalan. Terus seperti itu, sampai saya tidak tahu lagi kami sedang dimana, tetapi jalannya (sangat) buruk.
Lalu saya mulai berpikir dimana jalan lurus nyaman yang dulu selalu saya lewati?
Kenapa saya sama sekali tidak melihat satupun jalan dengan kondisi baik disetiap persimpangan?
Saya bilang kami tersesat, tapi dia meyakinkan saya untuk percaya, dia berjanji akan membawa saya ke jalan yang kembali baik seperti sebelumnya.
Lalu saya bisa apa selain mempercayai kata-katanya? Apa saya punya pilihan lain?
Apa saya bisa balik ke arah sebelumnya lalu melanjutkan semua ini tanpanya?
Jadi, saya melanjutkan ketersesatannya kami. Entah dia mau bawa saya kemana. Sampai akhirnya saya muak dengan ketersesatan kami, dia membawa saya ke jalan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sampai saya rasa saya tidak sanggup lagi untuk melewatinya. Dan pada waktu itu lah saya mengambil keputusan untuk berhenti, saya membebaskan dia untuk berbelok lagi entah kemana, tapi tanpa saya. Lalu pada saat itu dia marah kepada saya, merasa saya mengecewakan dia, karena dia pikir kami akan menghabiskan seluruh perjalanan ini bersama. Dia pergi meninggalkan saya tanpa menoleh sedikit pun.
Entah apa yang saya pikirkan waktu itu:
‘Bagaimana kalau dia menemukkan seseorang baru untuk menemaninya nanti?’
‘Bisakah saya memperbaiki semua ini tanpa dia?’
‘Apakah dia akan kembali kesini untuk saya?’
Sampai saya menunduk dan meliat jalan rusak dibawah kaki saya. Tidak, ini bukan jalan yang harusnya saya lalui. Saya tidak perlu memikirkan dia, sebelum bertemu dia saya bisa menjalani hidup saya (bahkan lebih baik), sebelum lalu dia merusak jalannya. Saya tidak butuh bantuannya, saya yang meminta dia meninggalkan saya, dan akan sangat baik ketika orang yang membuat saya tersesat itu akhirnya pergi.
Seharusnya, saya tidak perlu mengubah pilihan hidup saya untuk orang lain. Kebahagiaan saya tidak bergantung pada dia, tapi pada diri saya sendiri, karena ini adalah jalan hidup saya, pilihan saya. Mungkin ini sudah terlalu jauh untuk berbalik arah, berjalan lurus dan mencari jalan yang lebih baik… Tetapi saya mempercayai diri saya dibandingkan siapapun, apa yang orang-orang di pinggir jalan ucapkan tentang saya itu, sama sekali bukan urusan saya. Karena apa yang mereka ucapkan itu adalah urusan mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, mulut mereka. Dan begitulah juga saya, apa pun yang saya lakukan itu adalah urusan saya, tenaga saya, pikiran saya, langkah kaki saya.
Lalu suatu saat di salah satu persimpangan, saya bertemu dengannya. Kami –saya dan dia— meneruskan perjalanan bersama. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa perjalanan ini terasa lebih menyenangkan, kami saling bercerita dan mulai mengenal satu sama lain selama perjalanan. Sampai suatu hari, dia meminta saya untuk belok ke arah lain di persimpangan yang kami lewati, saya tegas menolak, saya bahkan mempersilahkan dia belok sendiri dan membiarkan saya tetap berjalan lurus. Tetapi dia menggeleng, dia lebih memilih bersama saya selama perjalanan dibandingkan belok ke arah lain. Saya tidak bisa untuk tidak tersenyum padanya. Saya membayangkan untuk berjalan melewati semua perjalanan hidup saya bersama dia.
Sampai pada suatu waktu selanjutnya di persimpangan dia meminta saya lagi untuk berbelok, saya jelas menolak, dan saya lihat garis kecewa itu di wajahnya. Saya juga enggan membiarkan dia belok sendiri, bagaimana saya melanjutkan perjalanan saya tanpa dia? Maka dia lah satu-satunya alasan mengapa saya belok di persimpangan kali ini. Walaupun jalan di belokan ini terasa penuh kerikil, dan saya mulai merasa tidak nyaman. Tetapi menurut saya ini akan baik-baik saja, selama saya bersama dia. Karena belokan pertama kami itu, kami jadi lebih sering belok di persimpangan berikutnya. Jalan yang saya lewati semakin buruk penuh bebatuan, ini semakin sulit untuk saya berjalan. Terus seperti itu, sampai saya tidak tahu lagi kami sedang dimana, tetapi jalannya (sangat) buruk.
Lalu saya mulai berpikir dimana jalan lurus nyaman yang dulu selalu saya lewati?
Kenapa saya sama sekali tidak melihat satupun jalan dengan kondisi baik disetiap persimpangan?
Saya bilang kami tersesat, tapi dia meyakinkan saya untuk percaya, dia berjanji akan membawa saya ke jalan yang kembali baik seperti sebelumnya.
Lalu saya bisa apa selain mempercayai kata-katanya? Apa saya punya pilihan lain?
Apa saya bisa balik ke arah sebelumnya lalu melanjutkan semua ini tanpanya?
Jadi, saya melanjutkan ketersesatannya kami. Entah dia mau bawa saya kemana. Sampai akhirnya saya muak dengan ketersesatan kami, dia membawa saya ke jalan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sampai saya rasa saya tidak sanggup lagi untuk melewatinya. Dan pada waktu itu lah saya mengambil keputusan untuk berhenti, saya membebaskan dia untuk berbelok lagi entah kemana, tapi tanpa saya. Lalu pada saat itu dia marah kepada saya, merasa saya mengecewakan dia, karena dia pikir kami akan menghabiskan seluruh perjalanan ini bersama. Dia pergi meninggalkan saya tanpa menoleh sedikit pun.
Entah apa yang saya pikirkan waktu itu:
‘Bagaimana kalau dia menemukkan seseorang baru untuk menemaninya nanti?’
‘Bisakah saya memperbaiki semua ini tanpa dia?’
‘Apakah dia akan kembali kesini untuk saya?’
Sampai saya menunduk dan meliat jalan rusak dibawah kaki saya. Tidak, ini bukan jalan yang harusnya saya lalui. Saya tidak perlu memikirkan dia, sebelum bertemu dia saya bisa menjalani hidup saya (bahkan lebih baik), sebelum lalu dia merusak jalannya. Saya tidak butuh bantuannya, saya yang meminta dia meninggalkan saya, dan akan sangat baik ketika orang yang membuat saya tersesat itu akhirnya pergi.
Seharusnya, saya tidak perlu mengubah pilihan hidup saya untuk orang lain. Kebahagiaan saya tidak bergantung pada dia, tapi pada diri saya sendiri, karena ini adalah jalan hidup saya, pilihan saya. Mungkin ini sudah terlalu jauh untuk berbalik arah, berjalan lurus dan mencari jalan yang lebih baik… Tetapi saya mempercayai diri saya dibandingkan siapapun, apa yang orang-orang di pinggir jalan ucapkan tentang saya itu, sama sekali bukan urusan saya. Karena apa yang mereka ucapkan itu adalah urusan mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, mulut mereka. Dan begitulah juga saya, apa pun yang saya lakukan itu adalah urusan saya, tenaga saya, pikiran saya, langkah kaki saya.
Tertanda,
Yang berbalik arah
Langganan:
Postingan (Atom)